
Jember – Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) sukses menyelenggarakan kegiatan “NGAJI EMPATI BKPI”, sebuah forum keilmuan dan spiritual yang mengangkat pentingnya nilai empati dalam kehidupan, pendidikan, dakwah, dan praktik konseling Islam. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusias dan dihadiri oleh civitas akademika Universitas Al-Falah As-Sunniyah (UAS), mahasiswa, serta para dosen BKPI.
Acara menghadirkan KH. Abdullah Khairuzad Maddah sebagai narasumber utama. Dalam penyampaian materinya, beliau menekankan bahwa empati merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan antarmanusia, terlebih bagi calon konselor, pendidik, dan dai yang setiap hari berinteraksi dengan berbagai karakter dan permasalahan umat.
Menurut beliau, kemampuan mendengarkan dengan hati, memahami kondisi orang lain tanpa menghakimi, serta memberikan respons yang penuh kasih sayang merupakan implementasi nyata dari nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasulullah SAW. Empati tidak hanya menjadi keterampilan sosial, tetapi juga bagian dari akhlak mulia yang harus terus dikembangkan oleh setiap muslim.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dr. H. Rizal Mumazziq Z. M.H.I, selaku Rektor UAS, yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya forum keilmuan dan keislaman tersebut. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kematangan emosional, dan kepedulian terhadap sesama.
Turut hadir pula Ketua Program Studi BKPI, Faisol Hakim, M.Pd.I, bersama sejumlah dosen BKPI, yaitu Dr. Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd, Muhammad Fikri Fauzi, M.Pd ., dan Puji Maulana, S.Pd.I., M.Pd. Kehadiran para dosen menunjukkan komitmen bersama dalam membangun budaya akademik yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi juga penguatan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan.
Ketua Program Studi BKPI menyampaikan bahwa kegiatan “NGAJI EMPATI BKPI” merupakan bagian dari upaya program studi untuk memperkuat integrasi antara keilmuan konseling dan nilai-nilai keislaman. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa empati bukan sekadar konsep yang dipelajari di ruang kuliah, melainkan sikap hidup yang harus diwujudkan dalam pelayanan konseling dan kehidupan bermasyarakat.
Selama kegiatan berlangsung, peserta tampak aktif mengikuti pemaparan materi, sesi refleksi, dan diskusi yang berlangsung hangat. Berbagai pengalaman dan hikmah yang disampaikan narasumber memberikan wawasan baru mengenai pentingnya menghadirkan hati dalam setiap proses membantu orang lain.
Testimoni Peserta
Alya Susanti (Mahasiswa BKPI Semester 4)
“Kegiatan ini sangat menginspirasi. Saya mendapatkan pemahaman baru bahwa menjadi konselor tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus memiliki empati yang kuat agar mampu memahami kondisi klien secara utuh.”
Laily Rahma Fadillah (Mahasiswa BKPI Semester 6)
“Materi yang disampaikan sangat relevan dengan dunia konseling. Penjelasan KH. Abdullah Khairuzad Maddah membuat saya semakin memahami bagaimana Islam mengajarkan kepedulian dan kasih sayang kepada sesama.”
M. Mujib Imanudin (Peserta Kegiatan)
“Suasana ngaji sangat hangat dan penuh makna. Saya merasa termotivasi untuk lebih peka terhadap perasaan orang lain dan lebih bijak dalam berinteraksi sehari-hari.”
Dr. Akhmad Rudi Masrukhin, M.Pd.
“Kegiatan seperti ini penting untuk terus dikembangkan karena mampu mengintegrasikan dimensi spiritual, akademik, dan kemanusiaan yang menjadi ciri khas pendidikan konseling Islam.”
Muhammad Fikri Fauzi, M.Pd.
“Melalui forum ini, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa empati merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang konselor profesional dan pendidik Islam.”

Meneguhkan Nilai Empati dalam Pendidikan Islam
Melalui kegiatan “NGAJI EMPATI BKPI”, Program Studi BKPI UAS kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi konselor Islam yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, akhlak mulia, dan kemampuan memahami sesama dengan penuh empati. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan sebagai ruang belajar, refleksi, dan penguatan karakter bagi seluruh civitas akademika.
“Empati bukan sekadar memahami perasaan orang lain, tetapi menghadirkan hati untuk menjadi bagian dari solusi bagi sesama.”