Jember – Di tengah kecenderungan dunia modern yang semakin menekankan capaian akademik, keterampilan teknis, dan produktivitas yang terukur, Ngaji Empati perdana yang diselenggarakan Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Universitas Al-Falah Assunniyah Kencong Jember menghadirkan pesan yang berbeda. Dalam majelis sederhana yang berlangsung di Aula Khofifah Indar Parawansa (KIP), Sabtu Legi, 13 Juni 2026, peserta diajak kembali pada pertanyaan yang paling mendasar: bagaimana menjaga keimanan agar tetap hidup di tengah dinamika kehidupan.
Melalui tema besar Empati sebagai Akhlak Jiwa, KH. Abdullah Khair Zad Maddah menguraikan bahwa seluruh akhlak yang baik, termasuk empati, pada hakikatnya berakar pada kualitas keimanan seseorang. Karena itu, sebelum berbicara tentang kemampuan memahami orang lain, seseorang terlebih dahulu harus belajar menjaga hubungan dirinya dengan Allah SWT.
Beliau menjelaskan bahwa penjagaan keimanan dimulai dari menjaga kemurnian tauhid. Dalam tradisi Islam, syirik tidak hanya dipahami sebagai penyembahan terhadap selain Allah secara terang-terangan, tetapi juga segala bentuk orientasi hati yang menempatkan sesuatu lebih tinggi daripada Allah. Ketika tauhid melemah, akhlak perlahan kehilangan fondasinya. Sebaliknya, ketika tauhid kokoh, hati menjadi lebih mudah menerima nasihat, menumbuhkan kasih sayang, dan menghadirkan ketenangan bagi sesama.
Dari tauhid, pembahasan kemudian bergerak pada pentingnya menjaga lingkungan keilmuan dan spiritual. Dalam kajian tersebut, beliau mengingatkan pentingnya mujālasah al-‘ulamā’, yaitu membiasakan diri duduk bersama para ulama dan orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu serta kebersihan hati. Menurut beliau, tidak semua pelajaran diperoleh dari buku. Sebagian hikmah justru lahir dari kebersamaan dengan orang-orang yang saleh, dari cara mereka memandang kehidupan, berbicara, bersikap, dan menjaga hubungan dengan Allah.
Tradisi pesantren sejak lama meyakini bahwa keberkahan ilmu tidak hanya ditentukan oleh apa yang dipelajari, tetapi juga oleh siapa seseorang belajar. Karena itulah para ulama terdahulu sering menempuh perjalanan panjang untuk sekadar duduk di majelis seorang alim, berharap memperoleh ilmu sekaligus adab.
Selain menjaga hubungan dengan ulama, beliau juga menekankan pentingnya menjaga pergaulan. Dalam Islam dikenal sabda Nabi Muhammad SAW:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang mengikuti agama dan jalan hidup sahabat dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.”
Pesan ini mengandung makna yang sangat dalam. Kepribadian seseorang sering kali dibentuk oleh lingkungan terdekatnya. Cara berpikir, kebiasaan, bahkan kualitas spiritual seseorang sedikit demi sedikit dipengaruhi oleh orang-orang yang setiap hari hadir dalam kehidupannya. Karena itu, memilih sahabat bukan sekadar urusan sosial, melainkan bagian dari upaya menjaga iman.
Pada bagian lain, KH. Khair Zad Maddah mengingatkan bahwa salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah hasad atau dengki. Penyakit ini tidak hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga menggerogoti ketenangan batin pelakunya sendiri. Orang yang dipenuhi hasad akan sulit bersyukur, sulit menerima kelebihan orang lain, dan perlahan kehilangan kedamaian dalam dirinya.
Namun di tengah pembahasan tentang dengki, beliau menyampaikan sebuah hikmah yang menarik. Tidak semua orang yang tidak menyukai kita harus dipandang sebagai musuh. Dalam beberapa keadaan, justru dari merekalah seseorang dapat belajar mengenali kekurangan dirinya sendiri.
Untuk menjelaskan hal tersebut, beliau mengangkat kisah yang populer dalam tradisi Islam tentang Sayyidina Umar bin Khattab dan Salman al-Farisi. Dalam kisah tersebut, Salman pernah mempertanyakan kondisi Umar yang dianggap berbeda dari kebanyakan masyarakat. Umar tidak marah, tidak tersinggung, dan tidak menolak pertanyaan tersebut. Sebaliknya, ia memberikan penjelasan dengan terbuka.
Terlepas dari perdebatan para ulama mengenai validitas detail kisah tersebut, hikmah yang ingin ditekankan sangat jelas: seorang mukmin yang matang tidak takut terhadap kritik yang lahir dari kepedulian terhadap kebenaran. Ia tidak menjadikan dirinya kebal dari koreksi.
Nilai ini sejalan dengan tradisi para ulama yang memandang kritik sebagai sarana muhasabah. Bahkan Umar bin Khattab dikenal dengan ungkapannya yang masyhur:
رَحِمَ اللهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي
“Semoga Allah merahmati seseorang yang menghadiahkan kepadaku aib-aibku.”
Dalam perspektif pendidikan jiwa, pesan ini sangat relevan bagi mahasiswa dan calon konselor. Tidak semua kritik harus dibenarkan, tetapi setiap kritik layak direnungkan. Kadang-kadang orang yang tidak menyukai kita justru memperlihatkan sisi diri yang selama ini luput dari perhatian kita sendiri.
Puncak dari seluruh pembahasan tersebut bermuara pada satu prinsip sederhana: keimanan yang benar harus melahirkan manfaat bagi sesama. KH. Khair Zad Maddah mengingatkan hadits yang sangat dikenal dalam khazanah Islam:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Menurut beliau, ukuran kemuliaan seseorang tidak terletak pada gelar, jabatan, atau banyaknya pengetahuan yang dimiliki. Kemuliaan justru tampak pada sejauh mana kehadirannya membawa manfaat bagi orang lain. Orang yang beriman akan berusaha menjadi sumber kebaikan, sumber ketenangan, dan sumber pertolongan bagi lingkungannya.
Pesan inilah yang menjadi benang merah Ngaji Empati perdana BKPI. Empati bukan sekadar kemampuan memahami perasaan orang lain, melainkan buah dari hati yang terjaga, iman yang dirawat, pergaulan yang baik, kesediaan menerima nasihat, serta kesungguhan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Dari sinilah empati tumbuh bukan sebagai teknik, melainkan sebagai akhlak jiwa.
Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb